smp 2 dawarblandong

Saturday, 15 October 2016

SMP NEGERI 2 DAWRBLANDONG

TENTANG SMPN 2 DAWARBLANDONG 
 Hasil gambar untuk SMPN 2DAWARBLANDONG
            Hasil gambar untuk SMPN 2DAWARBLANDONG
                SMP Negeri 2 Dawarblandong ; terletak di jalan Raya Sumberwuluh Desa Sumberwuluh Kecamatan Dawarblandong Kabupaten Mojokerto mempunyai peluang yang cukup besar dan sekolahnya cukup bagus mengingat letak geografisnya yang strategis serta mudah dijangkau  oleh kendaraan pribadi maupun kendaran umum

KONDISI SEKOLAH SMPN 2 DAWARBLANDONG

      Kekuatan SMP Negeri 2 Dawarblandong terletak pada input siswa, tenaga pendidik, sarana prasarana yang dimiliki, manajemen sekolah serta dukungan  masyarakat sekitar . Input siswa SMP Negeri 2 Dawarblandong berasal dari SD/MI di wilayah Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Gresik. Perekrutan  siswa berdasarkan hasil UASBN. Dan SMP Negeri 2 Dawarblandong berhasil menghasilkan  output dengan tingkat kelulusan 100 % untuk  4 tahun terakhir ini, sehingga termasuk sekolah yang cukup diperhitungkan oleh masyarakat Kabupaten Mojokerto khususnya masyarakat
      Dawarblandong dan sekitarnya, terbukti dengan banyaknya siswa pendaftar yang cukup tinggi yang ingin mengenyam pendidikan di SMP Negeri 2 Dawarblandong.
Mata pencaharian orang tua siswa 60 % sebagai petani, 20 % sebagai wirausaha, 5 % sebagai TNI dan Pegawai Negeri sipil serta 15 % mata pencaharian dukungan lainnya dengan tingkat dukungan terhadap sekolah sangat tinggi. kehidupan masyarakat di sekitar sekolah yang agamis sangat mendukung situasi dan kondisi dalam kegiatan pembelajaran di sekolah.
Kegiatan pembelajaran mengacu pada kurikulum yang disusun yaitu KTSP SMP Negeri 2 Dawarblandong. Kurikulum SMP Negeri 2 Dawarblandong disusun dengan mengacu pada Standar Kompetensi Lulusan (SKL), Standar Dalam Pengembangan Kurikulum, Standar Isi (SI),  Standar Proses (SP), Standar Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Standar Sarana dan Prasarana,
         Standar Pengelola Pendidikan, Standar Pembiayaan, Standar Penilaian Pendidikan, yang telah ditetapkan oleh pemerintah untuk menjamin tujuan pendidikan nasional, seperti yang tercantum dalam UUD 1945 pasal 31. Penyusunan Kurikulum SMP Negeri 2 Dawarblandongberpedoman pada panduan penyusunan KTSP yang disusun Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dan ketentuan lain yang menyangkut kurikulum dalam UU 20/2003 dan PP 19/2005, yang dijabarkan dalam Permendiknas No. 22, 23, 24 Tahun 2006, Permendiknas 6 Tahun 2007. Permendiknas No    41/2007 tentang Standar Proses, PP No 74 Tahun 2008 tentang  Guru, Keputusan Bersama antara Menteri Negara Lingkungan Hidup dengan Menteri Pendidikan Nasional Nomor : KEP 03/MENLH/02/2010 dan No. 01/11/KB/2010 tentang Pembinaan dan pengembangan Lingkungan Hidup, Surat
         Edaran       Sekretaris Daerah Kab Mojokerto, Nomor 660/317/416-203.P/2013 Perihal Program Adiwiyata. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 02 tahun 2009 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Adiwiyata, Keputusan Bersama antara Menteri Negara Lingkungan Hidup dengan Menteri Pendidikan Nasional Nomor : KEP 03/MENLH/02/2010 dan No. 01/11/KB/2010 tentang Pembinaan dan pengembangan Lingkungan Hidup dan Surat Keputusan Kepala SMP Negeri 2 Dawarblandong Nomor 421.3/1341a/416-101.38/2012 tentang Susunan Tim Adiwiyata
Fasilitas sarana prasarana yang menunjang pembelajaran meliputi1 ruang Laboratorium Biologi, 1 ruang Laboratorium Fisika, 1 ruang Laboratorium Komputer, 1 ruang Perpustakaan, 1 ruang Laboratorium Bahasa, sarana olah raga dan sarana ibadah yang memadai, hutan mini sekolah (hutan jati), ruang kopsis dan 2 kantin sekolah. Implementasi Menejemen Berbasis Sekolah (MBS) telah berjalan dengan mengedepankan demokrasi, akuntabilitas tinggi serta peduli dan berbudaya lingkungan.

POTENSI SEKOLAH

       SMP Negeri 2 Dawarblandong menempati lahan seluas 19.790 m2 , dengan rombongan belajar 18 kelas dengan jumlah siswa 565 siswa dengan ratio 1: 31 siswa. Ruang kelas yang memiliki perabot kelas sejumlah 18 ruang.
Tenaga pendidik yang dimiliki SMP Negeri 2 Dawarblandong yang  telah berkualifikasi S2 sebanyak ( 27 %), S1 sebanyak ( 73 %). Tenaga administrasi S1 sebanyak ( 3 orang ), D3 sebanyak ( 1 orang ),  SMA/SMEA ( 5 orang), SMP sebanyak ( 1 orang ) dan SD sebanyak ( 1 orang ) . Dengan kondisi tenaga pendidik dan kependidikan yang  berkualitas diharapkan kegiatan pembelajaran akan semakin berkualitas.

      Kurikulum sekolah kami memuat 7 kelompok mata pelajaran yang  dikembangkan berdasarkan 5 prinsip pengembangan kurikulum, Kurikulum sekolah kami memuat 10 mata pelajaran ,2 mulok dan 10 pengembangan diri. Kurikulum sekolah kami direview setiap tahun, disyahkan oleh Dinas serta  disosialisasian kepada semua pemangku kepentingan sekolah.
Sekolah menyediakan beberapa buku pelajaran yang sesuai dengan kurikulum yang berlaku  dan sumber belajar lainnya seperti buku literature dengan berbagai macam disiplin ilmu, ensiklopedia popular, majalah pendidikan dan majalah yang berkaitan dengan lingkungan (Trubus) serta buku-buku novel yang bermutu yang kesemuanya dapat menunjang proses pembelajaran di sekolah kami.Yang kesemua buku-buku tersebut dengan mudah dapat dipinjam dan dipakai oleh siswa
             maupun tenaga pendidik (guru) yang bisa menambah wawasan siswa serta pendidik.
Warga sekolah kami telah  membiasakan memanfaatkan barang bekas menjadi barang yang bermanfaat yang memiliki nilai ekonomis. Sekolah kami sudah memiliki dokumen RKS, RKA-S dengan memperhatikan komite sekolah, dan disetujui oleh Komite sekolah dan Kepala Dinas Pendidikan.
Sekolah kami juga telah menyelenggarakan Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal dan Global . Keunggulan lokal dikembangkan berdasarkan keunggulan kompetitif dan komperatif daerah dibidang seni budaya, muatan pendidikan yang dikembangkan adalah bidang seni budaya yaitu seni tari, seni musik. Kegiatan tersebut diimplementasikan melalui kegiatan pengembangan diri dalam kegiatan ekstrakurikuler bagi seluruh siswa smpn 2 dawarblandong

Ulasan by; Dimas nurdianyah
PIN  ; 552B1BFA DAN DO1D1A81
INSTAGRAM; dimas_nurdiansyah109
TWITTER;@dimas_manchez
FACEBOOK; Dimas manchez

                                 #    Sekian terimah kasih  #

ARTIKEL KEGIATAN HARI JUM`AT DI SMPN 2 DAWARBLANDONG

GERAKAN KEBERSIHAN
 Hasil gambar untuk SMPN 2DAWARBLANDONG
   Hasil gambar untuk smpn2 dawarblandong  Memasuki pintu gerbang SMPN2DAWARBLANDONG,Suasana terasa sangat nyaman dengan pepohonan yang tumbuh di sekitar sekolah.Kenyamanan semakin terasa ,ketika berdiri di depan kelas yang ada taman bunga. Menurut kepala sekolah SMPN2DAWARBLANDONG  pak siswoyo S.P.d, Sekolahnya sangat menjaga kebersihan dan rasa nyaman siswa. Ini dilakukan agar siswa siswi dan guru bisa mejalani proses belajar mengajar dengan baik di sekolah yang berada di jalan sumberwuluh kec. dawarblandong kota mojokerto.
        Setiap hari jum`at kita punya program namanya jum`at bersih.Di hari tersebut siswa siswi melakukan gotong royong melakukan kebersihan,jelasnya.selain meningkatkan proses kualitas kebesihan,disekolah ini menggiatkan program 6 k.mesikpun telah mempercayahi kepada petugas piket  kelas dan clenig service yang setiap hari melakukan tugasnya.Guru pun juga melakukan tugasnya yang sama yaitu menjaga kebersihan sekolah.
        Disamping itu, didepan seluruh ruang kelas telah disediahkan tong sampah yang dikhususkan bagi siswa siswi dan guru, tong sampah ini mempunyai peran penting, yaitu sebagai wadah penyimpanan sampah sampah, mulai dari kelas 7 sampai kelas 9 ,kita sudah menanamkan rasa memiliki sekolah ini dengan cara menjaga kebersihan dengan membuang sampah sembarangan,ungkapnya.

   Tak hanya itu saja,untuk menjaga kesehatan  siswanya pihaknya meminta agar petuga kantin membukus seluruh makanan yang di jualnya kebijakan ini dilakukan agar makanan yang akan disantap oleh siswa tetap higenis dan terjaga kualitasnya.
      Tak hanya didepan kelas ,di jalan menuju di kantin sekolah pun disediakan tong sampah.
Penepatan tong sampah ini dirasakan sangat perlu,
     untuk menampung seluruh bungkus sampah makanan yang telah dibeli oleh siswa siswi.Diakauinya untuk menciptakan image positif di masyarakat tak segampang membalikan telapak tangan
       Namun pak siswoyo S.P.d berharap dengan segala upaya telah dilakukan oleh seluruh siswa siswi dan guru maupun warga sekolah kedepannya dapat menjadikan sekolah ini maju bukan hanya dari prestasi siswa siswi namun juga dari segi kebersihan.
      Kenyamanan yang sangat terasa,dan Alhamdulilah,siswa siswi jadi termotivasi dan sekolah jadi bersih jelasnya.Selain prestasi siswa siswi kebersihan dan kedisiplinan ini juga akan  meningkatkan kualitas sekolah menjadi sekolah salah satu sekolah diKec.DawarBlandong Kab Mojokerto
        Mengatasi kebersihan lingkungan sekolah sangatlah tidak sulit,jika kita mau berusaha mengatasinya bersama-sama.Sebuah sekolah akan menjadi sumber pembelajaran bagi semua murid yang ada didalamnya.Mengigat sekolah yang bersih akan menimbulkan kesan baik bagi orang-orang yang melihatnya.(**)

Karya by: Dimas manchez
              (Dimas nurdiansyah)  
To:www.dimasmanchez.blogspot.com


Friday, 14 October 2016

PUISI GURUKU

Guruku Pahlawanku

Andai kata matahari tiada.......
Dunia akan beku dan bisu
pelangi tiada akan pernah terpancar
kehidupan tiada akan pernah terlaksana
Disaat titik kegalauan menghampiri
Terlihat setitik cahaya yang kami cari
Yang nampak dari sudut-sudut bibirmu
Dan gerak-gerik tubuhmu
Engkau sinari jalan-jalan kami yang buntu
Yang hampir menjerumuskan masa sepan kami
Engkau terangi kami dengan lentera ilmu mu
Yang tiada akan pernah sirna di terpa angin usia
Guru……..
Engkau pahlawan yang tak pernah mengharapkan balasan
Disaat kami tak mendengarkan mu
Engkau tak pernah mengeluh dan menyerah
Untuk mendidik kami
Darimu kami mengenal banyak hal
Tentang mana warna yang indah
Tentang garis yang harus di lukis
Juga tentang kata yang harus dibaca
Engkau membuat hidup kami berarti
Guru……
Tiada kata yang pantas kami ucapkan
Selain terimakasih atas semua jasa-jasa mu
Maafkan kami bila telah membuatmu kecewa
Jasa-jasa mu akan kami semat abadi sepanjang hidup kami
Terimakasih guruku, engkau pahlawan ku

 karya by:Dimas Manchez

Thursday, 13 October 2016

CERPEN PERSAHABATAN

        PERSAHABATAN

         Hello Gengs namaku Dimas,aku punya sahabat yang namanya yeri,ya umur kita gak jau beda juga si,aku lahir tahun 2001 dan yeri 2003,sejak aku SD kelas 5~>6 aku dan yeri bersahabat.
      Ketika aku kelas 7~>9 smp,jadilah sahabat yang sangat akur bahkan bertengkar pun tidak pernah,Dan aku senang sekali punya sahabat seperti yeri, karena dia selalu menghibur aku,semagatin aku.
     Pokoknya dia segala bagi aku,tiada dia pasti sepi hidupku,dari SD  kelas 5~>6 kita bersama dengan dia. bahkan kita seperti kakak beradik.Pada suatu saat si yeri berkenalan dengan seorang cewek yang disukai dia namanya saya samarkan M.F.
       Aku seneng banget ngelihat sahabat ku ini bahagia dengan M.F ,bahkan setahun dua tahun hubungan persahabatan baik baik saja tiada masalah,dan kita masih tetap nongkrong bareng,main main bareng bahkan kita masih curhat terus.
        Bahkan sampai ketiduran berdua dikamarku,dan pada suatu hari Saya tidak tau persis masalahnya  dan apa yang terjadi dan terjadilah cekcok antara aku dan yeri,mungkin itu salah aku.
   "Hemm
          Dan aku anggap bercanda ngomong sama dia,Ucapan serius dia marah sama aku, dan aku binggung harus bagaimana dia sudah terlalu marah,sampai aku minta maaf ia pun tidak perduli sama aku.
           Aku sangat menyesal banget kayak gitu sama si yeri,Hubungan persahabatan ku jadi gak karuan,Dan akhirnya persahatan kita terputus.


karya by:Dimas Manchez

NOVEL SEKOLAH

NOVEL SEKOLAH


           SMA Bangsa, salah satu sekolah swasta di ibu kota yang cukup terpandang lantaran siswa-siswinya ahli penyabet medali. Anak-anak berprestasi macam itu yang mendongkrak nama sekolah ini. Tapi, ssstt... sebenarnya di sekolah ini, siswa yang amburadul juga banyak, hanya saja lebih baik tak usah dieskpos.
        “Itu tuh!! Ambil bolanya!! Oper kanan-oper kanan!!” teriak kubu merah.
        “Loncat!! Masukin!! Yak, bagus!! Tuh, jaga-jaga!!” kubu biru nggak kalah sengitnya.
   Di lapangan basket, di sana berkumpul anak-anak XI-IPA 2 yang pengangguran. Mereka seharusnya mendapat ulangan fisika pada jam pertama, tapi mujur, Bu Emi selaku guru Fisika yang disebut-sebut guru teladan nan disiplin, diumumkan kosong. Penundaan ulangan itu membuat anak-anak jelas bersorak-sorai merdeka, pada pasang gaya lebay sambil berjingkrak-jingkrak ke sana kemari. Mereka sama sekali belum siap tempur, lagipula otak mereka juga belum diisi hapalan rumus yang kompleks itu. Betapa beruntungnya mereka mendapat berkah ulangan yang tertunda.
        Bu Emi mendadak pulang kampung karena ada berita yang mengguncangnya. Datangnya berita itu, membuat matanya melotot hingga beberapa detik. Saking shock-nya, tanpa sempat menjelaskan kepada guru-guru yang lain, tanpa bisa dihentikan oleh siapapun. Beliau langsung saja melesat ke tanah Bandung, tanah kelahirannya. Bu Emi tak tahu, kepanikannya membuat cemas para guru dan menyisakan tanda tanya besar. Tak ada yang tahu apa yang telah terjadi.
      Kembali lagi ke lapangan basket. Saking kompaknya tiap kelompok punya suporter masing-masing. Saling teriak menyemangati jagoannya.
     Karena kelewat semangatnya, teguran tegas dari seorang guru berkumis tebal langsung menghujani mereka. Guru itu berkhotbah sambil berkacak pinggang dengan sorot mata yang dingin. Suasana di lapangan basket mendadak senyap. Atmosfir berubah hening, tak ada yang berani ribut lagi. Tapi, ternyata nggak enak diam-diaman. Mereka mulai bersuara lagi, dengan volume yang teramat sangat rendah. Malah kedengarannya kayak bisik-bisik.
      “Eh… lari-lari….. kiri bebas… langsung serang…,” lirih kubu merah.
      “Terus….terus…. jaga pertahanan… hati-hati…,” kubu biru nggak kalah pelannya.
***
   Kehidupan sekolah menurut Fandi, Ibul, dan Juned antara lain adalah belajar, bermain, dan tentunya mencari gebetan. Tidak akan lengkap masa SMA jika tidak dibumbui dengan kisah roman, mereka mendambakan kisah cinta yang berwujud seperti drama percintaan Korea. Tapi, mereka sadar jika mimpi itu ketinggian, lalu mereka turunkan jangkauan menjadi drama percintaan tingkat nasional. Dan mereka belajar menjadi pribadi yang romantis, rambut klimis, pakaian necis, tapi modal tipis.
      Fandi adalah siswa kelas XI-IPA 2, lengkapnya Affandi Dwi Senja. Rambutnya sedikit gondrong, tapi rapi. Wajahnya good looking sekaligus eye catching, kata dia sih gitu. Yah, sebelas dua belas lah sama Zac Efron, itu juga kata dia sendiri. Fandi jomblo bukan karena nasib, tapi karena Fandi sendiri bukanlah tipe laki-laki yang berpacaran hanya untuk bersenang-senang, jika ia harus pacaran, maka perempuan itu adalah orang yang sangat ia cintai.
     Ibu adalah sahabat kental Fandi, rambutnya yang bergaya babak-bapak dan giginya yang ngetril maju merupakan sebuah ciri khas. Nama asli Ibul menurut akte kelahiran adalah Rama Soneta, nampak jelas bahwa bapaknya dangdut mania. Nama Ibul sendiri hanyalah panggilan akrabnya di sekolah. Mengapa dipanggil Ibul? Alkisah, dulu ia pernah ngibul yang teramat parah dan itu bullshit banget, jadilah ia dipanggil Ibul hingga batas waktu yang tak bisa ditentukan. Satu lagi, Ibul adalah makhluk jomblo dengan daya tarik nol. Perempuan ketika memandang Ibul tak ada selera-seleranya sama sekali. Ibaratnya seperti anak muda jaman sekarang, tapi disuguhi lagu tembang kenangan jaman kakek mereka.
     Juned juga sahabat Fandi, bernama lengkap Junaidi Aman. Penjelasan, nama Aman bukan berarti aman dari abu vulkanik ataupun gempa bumi, tapi Aman di sini singkatan dari ‘Asal Sleman’. Iya, diantara mereka, cuma Juned yang bukan asli Jakarta. Tapi, hasil produksi dari Jogja! Kulitnya nggak item, juga nggak putih, Juned suka yang sedang-sedang saja. Di Jakarta, dia menumpang tinggal di rumah Pakde-Budenya. Tentang kehidupan asmaranya, sama sekali tak punya pengalaman. Juned menjomblo karena bokek. Ia tak sanggup menjadi dompet kedua wanita. Juned kadang berseloroh, “Dulu masa kecil kurang bahagia, sekarang gedenya kurang biaya.”
      Di saat yang lainnya bermain basket atau jajan di kantin, mereka bertiga memanfaatkannya dengan berjalan-jalan di gedung kelas X. Semua kelas cukup sibuk dengan aktivitas belajar masing-masing. Jalanan di koridor sepi dan lengang. Sambil sesekali mengintip di balik jendela, mata mereka men-scan, mencari adik-adik kelas yang cute dan gemesin. Mungkin saja ada yang bisa digaet.
     Seorang gadis keluar dari kelas sambil membawa setumpuk buku dengan kepayahan. Mereka bertiga bergeming, langsung mengukur kecantikan gadis itu adalah 9 dari 10. Dengan cepat, Ibul melesat ke gadis itu. Instingnya mengatakan jika gadis ayu itu membutuhkan pertolongan.
     “Boleh dibantu?” ucap Ibul pada si adik kelas.
     “Mmm, boleh,” sahutnya.
  Gadis yang diketahui sisiwi kelas X-5 itu menyerahkan sebagian buku yang dibawanya. Sebenarnya gadis itu lumayan kaget dengan Ibul yang dengan pedenya menawarkan diri tanpa malu-malu. Ia curiga jika semua ada maksud di baliknya. Apalagi laki-laki macam Ibul, kentara sekali maksud serigalanya.
    “Mau dibawa kemana?” Ibul menanyakan penuh kelembutan.
    “Ke ruang guru, Kak.”
    “Bukan bukunya... tapi, hubungan kita,” goda Ibul sambil mengedipkan sekali pada si gadis yang kontan merinding.
    Fandi dan Juned melongo. Mereka hanya bisa menonton kemudian geleng-geleng. Punya sahabat kok tak terkendali seperti itu. Sepertinya besok-besok musti diberi fitur rem biar nggak keblabasan, pikir mereka.
    Ibul dan gadis itu sudah menuruni tangga ke lantai bawah dan hilang dari pandangan. Tak membuang-buang waktu, Fandi dan Juned kembali berjalan santai di lorong kelas. Belum lama melangkah, mata mereka tertuju pada gadis lain yang berdiri di luar kelas X-8. Tak diragukan lagi, parasnya tak kalah manis dengan gadis yang membawa buku tadi.
    Seperti sebuah kesempatan, Juned mendekati dan memberikan senyum terbaiknya, “Kenapa? Kok cuma berdiri di sini ndak masuk ke kelas?”
    “Anu, lagi dihukum, Kak,” jawabnya pelan.
    “Atas dasar?”
    Gadis itu menjawab ragu-ragu, “Karena.... nggak ngerjain PR.”
    Juned menarik napas panjang. Ia busungkan dadanya kemudian melongok ke jendela, “Ooh, kamu diajar si guru muda yang baru itu, toh? Dasar ndak pengalaman! Masa ngasih hukuman muridnya kayak hukuman anak SD? Apalagi nge hukum siswi manis kayak kamu, itu tindakan ndak benar! Ya udah, gimana kalau saya temenin berdiri.”
    “Ng-nggak usah, Kak. Nggak apa-apa,” tolak si gadis.
    “Tenang aja. Dua orang lebih baik daripada sendiri. Kita jalani berdua, biar semua terasa indah. Ah maksudnya, biar kamu ndak kesepian.”
    “T-tapi....”
    Fandi menepuk jidatnya. Dua sahabatnya memang sama saja. Sama-sama penggila wanita yang parah. Seperti menemukan anak kelinci dan mereka sendiri adalah sang serigala yang kelaparan yang sudah terlampau lama berpuasa. Tapi, karena Fandi adalah sahabat yang baik, ia cukup pengertian dan meninggalkan Juned yang terlanjur asyik dengan incarannya.
    Gedung kelas X yang besar ini memiliki tiga lantai. Di saat Fandi menuruni tangga pelan, matanya menangkap sepasang muda-mudi yang sedang berseteru di pertengahan tangga. Sinyal bahaya berdengung, kata hatinya mengatakan agar tak perlu ikut campur dalam urusan mereka. Seketika paham, langkah Fandi pun pindah haluan.
    “Nah, itu dia! Dia orangnya!” seru sang gadis yang sedari tadi bertengkar mulut dengan laki-laki yang bersamanya.
    Otomatis Fandi menoleh ke mereka. Kagetnya Fandi mendapati dirinya diacungi sedemikian rupa oleh gadis itu.
    “Heh! Jangan pergi lo!” sergah laki-laki yang memiliki tubuh besar atletis. Dengan gagah ia berjalan mendekat ke Fandi yang terlanjur kaku di tempat. “Jadi lo orangnya? Cowok kurang ajar yang udah berani godain cewek orang! April tuh cewek gue!!”
    “A-April siapa? Tu-tunggu, ini pasti ada kesalahpahaman,” Fandi yang tak tahu apa-apa hanya bisa bingung. Ditambah dipelototi begitu rupa, jelas bikin Fandi mengkeret.
    “Berani-beraninya lo ya! Udah bosen sehat lo? Pingin daftar di rumah sakit, iya!?”
    “A-anu, Bang....,” Fandi sepertinya tahu kalau laki-laki kasar itu adalah anak kelas XII, kakak kelasnya. “Sa-salah paham. Su-sumpah, Bang! Saya nggak tahu apa-apa...”
    “Halah! Kagak percaya gue!”
    “Sa-saya anak baik-baik, nggak aneh-aneh, c-cinta kedamaian, hapal pancasila, kalau tujuhbelasan suka panjat pinang, peace, Bang! Peace anak Slankers!”
    Laki-laki itu mendengus mirip kerbau, wajahnya memerah dan siap untuk menerjang Fandi. Ia melongok ke gadisnya meminta kepastian. Tapi...
    “Eh, Lho. Mana April?” kakak kelas Fandi itu celingukan, gadis di sebelahnya telah hilang.
    “Ka-kalau yang dimaksud cewek di samping tadi udah lari ke bawah.”
    Fandi masih kaku tak tahu musti bagaimana. Laki-laki itu sudah turun ke bawah mengejar pacarnya sembari berseru memanggil namanya. Tinggallah Fandi berdiri sendiri sambil bengong.
***
    “Hmm... tugas kelompoknya sudah selesai kan?” ucap Bu Nanik seraya melihat anak-anak didiknya. Pelajaran Bahasa Indonesia sudah dimulai. “Ibu nggak akan tunjuk sana-sini. Kalian udah SMA, udah gede. Siapa yang berani maju duluan, dia dapat nilai lebih. Gitu aja ya?”
    Anak-anak saling pandang. Saling berunding sesama kelompoknya. Tugas yang diberikan Bu Nanik saat itu tugas membuat naskah drama dengan latar kerajaan.
    Fandi juga memiliki satu sahabat lagi, kali ini perempuan, namanya Reina Agnesia. Reina bukannya tidak pernah bergaul dengan teman perempuannya, tapi memang Reina merasa lebih hidup saat kumpul bersama Fandi CS. Kocak aja bisa bareng cowok-cowok gokil itu, katanya. Reina anaknya tomboy? Ooh tidak, feminin malah. Hobinya sama seperti anak-anak perempuan pada umumnya. Kalau ditanya apa yang paling dia sukai, Reina langsung jawab dengan semangat, “Bikin kue!” Dia punya cita-cita pingin punya bakery sendiri dan cabangnya kalau bisa ada dimana-mana. Paling nggak tiap lewat dua kilo, berdiri toko kuenya.
    Saat yang lainnya diliputi keraguan untuk maju, Fandi, Ibul, Juned, dan Reina serentak berdiri dan melangkah maju ke depan dengan pasti. Anak-anak pada sirik karena kalah cepat.
    Fandi CS sudah membagi tugas dan peran secara merata. Ibul sempat protes karena ia selalu mendapat bagian yang nggak enak. Juned menjadi narator cerita, Fandi menjadi pangeran yang tertukar, Ibul menjadi kakek sihir buruk rupa, dan Reina tentu saja menjadi sang puteri yang cantik jelita. Judul naskah drama mereka sedikit aneh, “Kisah Kakek Sihir yang Kehilangan Cucu.”
    Baru saja Juned akan memulai bernarasi, terdengar ketukan pintu yang nyaring. Bu Nanik membukakan dan dua gadis berdiri di sana.
    “Maaf, Bu, bisa bertemu dengan Kak Rama?” tanyanya sopan.
    “Kalau saya mencari Kak Juned, Bu,” ujar gadis satunya.
    Anak-anak sekelas langsung gaduh, Juned dan Ibul yang mendengar namanya disebut segera melongok siapa gerangan yang mencari mereka. Rupanya dua gadis itu adalah para adik kelas yang mereka dekati tadi.
    “Perlunya apa? Sekarang mereka sedang mempraktikkan drama,” tanya Bu Nanik balik.
    “Emm, masalah pribadi, Bu,” si gadis menjawab ragu-ragu.
    “Kalau hanya masalah pribadi, apa tidak bisa sepulang sekolah nanti? Jangan ganggu mereka dulu ya?”
    Juned dan Ibul pun menampakkan hidung mereka, “Sebentar aja ya, Bu. Ijin bicara sama mereka sebentar.”
    “Saya juga, Bu. Lima menit,” Juned menimpali.
    Bu Nanik akhirnya mengijinkan juga meski merasa risih telah diganggu jam mengajarnya. Di luar, kedua gadis itu menyeret tangan Juned dan Ibul kasar. Wajah mereka sebal bukan main.
    “Ririn, ada apa sih?” Ibul heran dengan sikap gadis itu.
    “Kok repot-repot ketuk pintu cari saya ada apa toh? Kan ndak enak sama Bu Nanik,” Juned juga tak kalah bingungnya.
    Kedua gadis itu kompak menjawab. “Gara-gara kalian, kita diputusin cowok kita!!”
    “Lho, kok bisa?”
    “Ya bisa lah! Waktu Kak Rama sok-sok akrab nganterin bawa buku, ternyata cowok saya lihat dan marah. Dikiranya saya selingkuh sama kakak kelas,” jelas Ririn. Wajahnya sampai ingin menangis. “Terus... terus saya dapat sms, katanya hubungan kita sampai di sini aja. Katanya juga selera saya turun drastis. Gi-gimana nih? Ayo tanggung jawab!”
    Gadis satunya yang bernama Nita pun memaparkan permasalahan yang hampir serupa, “Kak Juned! Pokoknya Kakak musti lurusin kesalahpahaman ini! Saya satu kelas sama cowok saya, dia cemburu banget waktu lihat kita berdiri berduaan di luar. Apalagi Kak Juned ngerayu-ngerayu segala. Cowok saya pasrah merelakan jika itu semua demi kebahagiaan saya, dia nganggap saya lebih suka sama cowok ndeso daripada cowok kota modis.”
    Juned digoncang-goncangkan tubuhnya dituntut tanggung jawab, sedangkan Ibul melihat gadis di depannya mulai mengalir turun air matanya. Mereka shock mendengar penuturan itu, sampai segitunya.
    Di dalam kelas, Bu Nanik sudah menunggu tak sabar. Belum selesai permasalahan Ibul dan Juned, ada lagi yang bertandang ke kelas XI-IPA 2 itu. Seorang gadis tanpa dosa yang lain muncul.
    “Bisa bertemu dengan Kak Fandi?”
    Bu Nanik mengembuskan napas panjang, tangannya geregetan karena tambah lagi satu ekor pengganggu.
    “Ada apa? Masalah pribadi juga?” Bu Nanik berkata sinis.
    “I, iya... Bu,” jawabnya takut-takut.
    “Fandiiii! Ada yang cariin tuh!” seru Bu Nanik ke Fandi dengan gelagat tak suka. “Huuh, kalian populer banget sih!”
    Fandi pun keluar. Di depan papan tulis hanya tinggal Reina yang berdiri bengong ditinggal semua personilnya.
    “Ka-kamu yang tadi di gedung kelas X kan? Kamu anak kelas X ya?” ingat Fandi.
    Gadis itu mengangguk, “Iya, saya juga yang nunjuk-nunjuk Kakak tadi. Maaf banget, Kak, cuma itu cara buat kabur dari pacar saya. Dia keterlaluan posesifnya, bikin nggak nyaman.”
    “Tapi jangan gitu caranya, masa masalah pribadi nyeret-nyeret orang lain? Kalau aku dibikin babak belur sama pacarmu yang kayak Rambo itu, gimana?”
    “Ya, Kak. Maaf ya... maaf,” wajah gadis itu imut sekali sampai membuat Fandi tak bisa menolak permintaan maafnya.
    “Nama Kakak, Fandi kan? Nama saya April. Salam kenal.”
    “Nah, kamu tahu namaku dari mana?”
    “Kak Fandi nggak perlu tahu. Ada deh,” April memberikan senyuman malaikatnya.
    “Fandi!! Junaidi!! Rama!!” Bu Nanik menghardik di depan pintu. “Waktu berkunjung selesai, kalian para perempuan udah pergi sana, pergi-pergi! Hush-hush!”
    “Hiiiii! Maaaaf, Buu,” mereka menjawab serempak sambil kabur ketakutan. Di kejauhan, April melambaikan tangannya pada Fandi yang kemudian segera dibalasnya cepat.
***
    Menit demi menit berlalu hingga membawa mereka pada penghujung pelajaran. Jam terakhir di XI-IPA 2 saat itu Seni Rupa. Mereka bisa santai lagi setelah pelajaran Matematika yang memeras otak sebelumnya. Memahami rumus yang bervariasi membutuhkan daya logika dan konsentrasi yang tinggi. Mereka selalu jengkel ketika rumus dalam contoh soal yang diajarkan begitu mudah, namun ketika menghadapi lembar ujian, bermutasi menjadi soal yang sulit ditaklukkan.
    Semua anak-anak meregangkan otot, pelajaran seni rupa yang identik dengan otak kanan akan terasa mudah. Palingan nanti cuma disuruh gambar pemandangan dengan perspektif yang benar. Sambil menunggu gurunya datang, mereka ribut seperti biasanya.
    Suara derap langkah menuju kelas Fandi dan kawan-kawan. “Selamat siang anak-anak!”
    Semua mata terbelalak. Tak ada yang berkedip, mereka terkejut melihat siapa yang datang. Padahal semua anak sudah bisa menebak itu pasti Bu Meri selaku guru Seni Rupa. Semua anak juga sudah siap dengan alat gambar masing-masing di meja. Sudah siap untuk menyambut kelas imajinasi. Tapi, apa yang mereka dapat? Bu Emi selaku guru Fisika yang killer itu, yang tak kenal ampun itu, yang jatah mengajar ada di jam pertama, kini ada di hadapan mereka semua. Lho, gimana bisa? Bukannya lagi di Bandung?
    “S-selamat siang,” jawab anak-anak bingung. Ada kekhawatiran yang segera lahir di benak mereka masing-masing.
    “Sebelumnya Ibu mau menjelaskan terlebih dahulu. Kebetulan Bu Meri, guru Seni Rupa kalian nggak bisa mengajar hari ini. Jadi, Ibu mengambil jam pelajaran beliau untuk mengganti jam yang kosong tadi pagi. Nggak ada yang keberatan kan?” papar Bu Emi
    “L-lho, bukannya Ibu ada halangan lantas nggak bisa ngajar hari ini?” tanya Ibul.
    “Tadi pagi sih iya. Tapi untuk siang ini Ibu sangat-sangat punya waktu untuk kalian!” tegas Bu Emi bersemangat. “Ibu dibohongin, ada berita di kampung Ibu di Bandung, Shahrukh Khan datang berkunjung sosialisasi. Seharusnya Ibu lebih nyadar kalau itu bohong banget. Ibu sudah dibutakan dengan menjadi penggemar fanatik aktor Bollywood. Kemudian, Ibu langsung balik lagi ke Jakarta untuk menemui kalian. Tanpa beristirahat dan tanpa minum air segelas pun. Semua itu Ibu lakukan karena Ibu punya janji pada kalian. Ibu sayang kalian. Ayo! Sekarang siapkan selembar kertas! Kita ulangan hari ini, sekarang juga!”
    Jeglek! “Haaaaaaaaaaaaaaaahhh!!!” kompak seluruh anak seperti kodok paduan suara.
    Di otak mereka, terlintas pikiran kalau Bu Emi ini memang guru yang sangat-sangat teladan. Karena keteladannya yang super, janjinya pada anak-anak ia tepati hari itu juga.
    “Bu… jangan memaksakan diri, Bu….” ucap anak-anak lemas.

.BY NOVEL DIMAS NURDIASYAH

PUISI SAHABAT

Sahabat kita

Sahabat.....

Kau akan selalu yang terbaik
untukKu selamanya...
Disaat aku menangis
Engkau ada untuk menghapus air mata ini
Disaat aku dalam kegagallan
Engkau ada untuk membangkitkanKu dari kegagallan yang telah kulalui

Sahabat.....
CintaMu bagaikan air yang selalu mengalir dan tidak akan putus oleh apapun juga.
Dan SayangMu bagaikan hari yang selalu baru di setiap saat tidak menggenal siang dan malam.

Sahabat...
Peganglah tangan ini dan genggamlah tangan Ku ini
walau banyak rintangan
walau banyak tantanggan sekalipun yang selalu menghampiriKu.

Percayalah padaKu
Aku dan Kamu akan senantiasa selalu berjuang melewati setiap masalah Dan setiap apapun yang akan terjadi nantinya.
Tenanglah Kita akan melewati dan akan menjalani semua yang akan terjadi.

Karya by:Dimas n