NOVEL SEKOLAH
SMA Bangsa, salah satu sekolah swasta di ibu kota
yang cukup terpandang lantaran siswa-siswinya ahli penyabet medali.
Anak-anak berprestasi macam itu yang mendongkrak nama sekolah ini. Tapi,
ssstt... sebenarnya di sekolah ini, siswa yang amburadul juga banyak,
hanya saja lebih baik tak usah dieskpos.
“Itu tuh!! Ambil bolanya!! Oper kanan-oper kanan!!” teriak kubu merah.
“Loncat!! Masukin!! Yak, bagus!! Tuh, jaga-jaga!!” kubu biru nggak kalah sengitnya.
Di
lapangan basket, di sana berkumpul anak-anak XI-IPA 2 yang
pengangguran. Mereka seharusnya mendapat ulangan fisika pada jam
pertama, tapi mujur, Bu Emi selaku guru Fisika yang disebut-sebut guru
teladan nan disiplin, diumumkan kosong. Penundaan ulangan itu membuat
anak-anak jelas bersorak-sorai merdeka, pada pasang gaya lebay sambil
berjingkrak-jingkrak ke sana kemari. Mereka sama sekali belum siap
tempur, lagipula otak mereka juga belum diisi hapalan rumus yang
kompleks itu. Betapa beruntungnya mereka mendapat berkah ulangan yang
tertunda.
Bu Emi mendadak pulang kampung
karena ada berita yang mengguncangnya. Datangnya berita itu, membuat
matanya melotot hingga beberapa detik. Saking shock-nya, tanpa
sempat menjelaskan kepada guru-guru yang lain, tanpa bisa dihentikan
oleh siapapun. Beliau langsung saja melesat ke tanah Bandung, tanah
kelahirannya. Bu Emi tak tahu, kepanikannya membuat cemas para guru dan
menyisakan tanda tanya besar. Tak ada yang tahu apa yang telah terjadi.
Kembali
lagi ke lapangan basket. Saking kompaknya tiap kelompok punya suporter
masing-masing. Saling teriak menyemangati jagoannya.
Karena
kelewat semangatnya, teguran tegas dari seorang guru berkumis tebal
langsung menghujani mereka. Guru itu berkhotbah sambil berkacak pinggang
dengan sorot mata yang dingin. Suasana di lapangan basket mendadak
senyap. Atmosfir berubah hening, tak ada yang berani ribut lagi. Tapi,
ternyata nggak enak diam-diaman. Mereka mulai bersuara lagi, dengan
volume yang teramat sangat rendah. Malah kedengarannya kayak
bisik-bisik.
“Eh… lari-lari….. kiri bebas… langsung serang…,” lirih kubu merah.
“Terus….terus…. jaga pertahanan… hati-hati…,” kubu biru nggak kalah pelannya.
***
Kehidupan
sekolah menurut Fandi, Ibul, dan Juned antara lain adalah belajar,
bermain, dan tentunya mencari gebetan. Tidak akan lengkap masa SMA jika
tidak dibumbui dengan kisah roman, mereka mendambakan kisah cinta yang
berwujud seperti drama percintaan Korea. Tapi, mereka sadar jika mimpi
itu ketinggian, lalu mereka turunkan jangkauan menjadi drama percintaan
tingkat nasional. Dan mereka belajar menjadi pribadi yang romantis,
rambut klimis, pakaian necis, tapi modal tipis.
Fandi adalah siswa kelas XI-IPA 2, lengkapnya Affandi Dwi Senja. Rambutnya sedikit gondrong, tapi rapi. Wajahnya good looking sekaligus eye catching,
kata dia sih gitu. Yah, sebelas dua belas lah sama Zac Efron, itu juga
kata dia sendiri. Fandi jomblo bukan karena nasib, tapi karena Fandi
sendiri bukanlah tipe laki-laki yang berpacaran hanya untuk
bersenang-senang, jika ia harus pacaran, maka perempuan itu adalah orang
yang sangat ia cintai.
Ibu adalah sahabat
kental Fandi, rambutnya yang bergaya babak-bapak dan giginya yang
ngetril maju merupakan sebuah ciri khas. Nama asli Ibul menurut akte
kelahiran adalah Rama Soneta, nampak jelas bahwa bapaknya dangdut mania.
Nama Ibul sendiri hanyalah panggilan akrabnya di sekolah. Mengapa
dipanggil Ibul? Alkisah, dulu ia pernah ngibul yang teramat parah dan
itu bullshit banget, jadilah ia dipanggil Ibul hingga batas waktu
yang tak bisa ditentukan. Satu lagi, Ibul adalah makhluk jomblo dengan
daya tarik nol. Perempuan ketika memandang Ibul tak ada selera-seleranya
sama sekali. Ibaratnya seperti anak muda jaman sekarang, tapi disuguhi
lagu tembang kenangan jaman kakek mereka.
Juned
juga sahabat Fandi, bernama lengkap Junaidi Aman. Penjelasan, nama Aman
bukan berarti aman dari abu vulkanik ataupun gempa bumi, tapi Aman di
sini singkatan dari ‘Asal Sleman’. Iya, diantara mereka, cuma
Juned yang bukan asli Jakarta. Tapi, hasil produksi dari Jogja! Kulitnya
nggak item, juga nggak putih, Juned suka yang sedang-sedang saja. Di
Jakarta, dia menumpang tinggal di rumah Pakde-Budenya. Tentang kehidupan
asmaranya, sama sekali tak punya pengalaman. Juned menjomblo karena
bokek. Ia tak sanggup menjadi dompet kedua wanita. Juned kadang
berseloroh, “Dulu masa kecil kurang bahagia, sekarang gedenya kurang
biaya.”
Di saat yang lainnya bermain basket
atau jajan di kantin, mereka bertiga memanfaatkannya dengan
berjalan-jalan di gedung kelas X. Semua kelas cukup sibuk dengan
aktivitas belajar masing-masing. Jalanan di koridor sepi dan lengang.
Sambil sesekali mengintip di balik jendela, mata mereka men-scan,
mencari adik-adik kelas yang cute dan gemesin. Mungkin saja ada yang bisa digaet.
Seorang
gadis keluar dari kelas sambil membawa setumpuk buku dengan kepayahan.
Mereka bertiga bergeming, langsung mengukur kecantikan gadis itu adalah 9
dari 10. Dengan cepat, Ibul melesat ke gadis itu. Instingnya mengatakan
jika gadis ayu itu membutuhkan pertolongan.
“Boleh dibantu?” ucap Ibul pada si adik kelas.
“Mmm, boleh,” sahutnya.
Gadis
yang diketahui sisiwi kelas X-5 itu menyerahkan sebagian buku yang
dibawanya. Sebenarnya gadis itu lumayan kaget dengan Ibul yang dengan
pedenya menawarkan diri tanpa malu-malu. Ia curiga jika semua ada maksud
di baliknya. Apalagi laki-laki macam Ibul, kentara sekali maksud
serigalanya.
“Mau dibawa kemana?” Ibul menanyakan penuh kelembutan.
“Ke ruang guru, Kak.”
“Bukan bukunya... tapi, hubungan kita,” goda Ibul sambil mengedipkan sekali pada si gadis yang kontan merinding.
Fandi
dan Juned melongo. Mereka hanya bisa menonton kemudian geleng-geleng.
Punya sahabat kok tak terkendali seperti itu. Sepertinya besok-besok
musti diberi fitur rem biar nggak keblabasan, pikir mereka.
Ibul
dan gadis itu sudah menuruni tangga ke lantai bawah dan hilang dari
pandangan. Tak membuang-buang waktu, Fandi dan Juned kembali berjalan
santai di lorong kelas. Belum lama melangkah, mata mereka tertuju pada
gadis lain yang berdiri di luar kelas X-8. Tak diragukan lagi, parasnya
tak kalah manis dengan gadis yang membawa buku tadi.
Seperti
sebuah kesempatan, Juned mendekati dan memberikan senyum terbaiknya,
“Kenapa? Kok cuma berdiri di sini ndak masuk ke kelas?”
“Anu, lagi dihukum, Kak,” jawabnya pelan.
“Atas dasar?”
Gadis itu menjawab ragu-ragu, “Karena.... nggak ngerjain PR.”
Juned
menarik napas panjang. Ia busungkan dadanya kemudian melongok ke
jendela, “Ooh, kamu diajar si guru muda yang baru itu, toh? Dasar ndak
pengalaman! Masa ngasih hukuman muridnya kayak hukuman anak SD? Apalagi
nge hukum siswi manis kayak kamu, itu tindakan ndak benar! Ya udah,
gimana kalau saya temenin berdiri.”
“Ng-nggak usah, Kak. Nggak apa-apa,” tolak si gadis.
“Tenang
aja. Dua orang lebih baik daripada sendiri. Kita jalani berdua, biar
semua terasa indah. Ah maksudnya, biar kamu ndak kesepian.”
“T-tapi....”
Fandi
menepuk jidatnya. Dua sahabatnya memang sama saja. Sama-sama penggila
wanita yang parah. Seperti menemukan anak kelinci dan mereka sendiri
adalah sang serigala yang kelaparan yang sudah terlampau lama berpuasa.
Tapi, karena Fandi adalah sahabat yang baik, ia cukup pengertian dan
meninggalkan Juned yang terlanjur asyik dengan incarannya.
Gedung
kelas X yang besar ini memiliki tiga lantai. Di saat Fandi menuruni
tangga pelan, matanya menangkap sepasang muda-mudi yang sedang berseteru
di pertengahan tangga. Sinyal bahaya berdengung, kata hatinya
mengatakan agar tak perlu ikut campur dalam urusan mereka. Seketika
paham, langkah Fandi pun pindah haluan.
“Nah, itu dia! Dia orangnya!” seru sang gadis yang sedari tadi bertengkar mulut dengan laki-laki yang bersamanya.
Otomatis Fandi menoleh ke mereka. Kagetnya Fandi mendapati dirinya diacungi sedemikian rupa oleh gadis itu.
“Heh!
Jangan pergi lo!” sergah laki-laki yang memiliki tubuh besar atletis.
Dengan gagah ia berjalan mendekat ke Fandi yang terlanjur kaku di
tempat. “Jadi lo orangnya? Cowok kurang ajar yang udah berani godain
cewek orang! April tuh cewek gue!!”
“A-April
siapa? Tu-tunggu, ini pasti ada kesalahpahaman,” Fandi yang tak tahu
apa-apa hanya bisa bingung. Ditambah dipelototi begitu rupa, jelas bikin
Fandi mengkeret.
“Berani-beraninya lo ya! Udah bosen sehat lo? Pingin daftar di rumah sakit, iya!?”
“A-anu,
Bang....,” Fandi sepertinya tahu kalau laki-laki kasar itu adalah anak
kelas XII, kakak kelasnya. “Sa-salah paham. Su-sumpah, Bang! Saya nggak
tahu apa-apa...”
“Halah! Kagak percaya gue!”
“Sa-saya anak baik-baik, nggak aneh-aneh, c-cinta kedamaian, hapal pancasila, kalau tujuhbelasan suka panjat pinang, peace, Bang! Peace anak Slankers!”
Laki-laki
itu mendengus mirip kerbau, wajahnya memerah dan siap untuk menerjang
Fandi. Ia melongok ke gadisnya meminta kepastian. Tapi...
“Eh, Lho. Mana April?” kakak kelas Fandi itu celingukan, gadis di sebelahnya telah hilang.
“Ka-kalau yang dimaksud cewek di samping tadi udah lari ke bawah.”
Fandi
masih kaku tak tahu musti bagaimana. Laki-laki itu sudah turun ke bawah
mengejar pacarnya sembari berseru memanggil namanya. Tinggallah Fandi
berdiri sendiri sambil bengong.
***
“Hmm...
tugas kelompoknya sudah selesai kan?” ucap Bu Nanik seraya melihat
anak-anak didiknya. Pelajaran Bahasa Indonesia sudah dimulai. “Ibu nggak
akan tunjuk sana-sini. Kalian udah SMA, udah gede. Siapa yang berani
maju duluan, dia dapat nilai lebih. Gitu aja ya?”
Anak-anak
saling pandang. Saling berunding sesama kelompoknya. Tugas yang
diberikan Bu Nanik saat itu tugas membuat naskah drama dengan latar
kerajaan.
Fandi juga memiliki satu sahabat
lagi, kali ini perempuan, namanya Reina Agnesia. Reina bukannya tidak
pernah bergaul dengan teman perempuannya, tapi memang Reina merasa lebih
hidup saat kumpul bersama Fandi CS. Kocak aja bisa bareng cowok-cowok
gokil itu, katanya. Reina anaknya tomboy? Ooh tidak, feminin malah.
Hobinya sama seperti anak-anak perempuan pada umumnya. Kalau ditanya apa
yang paling dia sukai, Reina langsung jawab dengan semangat, “Bikin
kue!” Dia punya cita-cita pingin punya bakery sendiri dan cabangnya
kalau bisa ada dimana-mana. Paling nggak tiap lewat dua kilo, berdiri
toko kuenya.
Saat yang lainnya diliputi
keraguan untuk maju, Fandi, Ibul, Juned, dan Reina serentak berdiri dan
melangkah maju ke depan dengan pasti. Anak-anak pada sirik karena kalah
cepat.
Fandi CS sudah membagi tugas dan peran
secara merata. Ibul sempat protes karena ia selalu mendapat bagian yang
nggak enak. Juned menjadi narator cerita, Fandi menjadi pangeran yang
tertukar, Ibul menjadi kakek sihir buruk rupa, dan Reina tentu saja
menjadi sang puteri yang cantik jelita. Judul naskah drama mereka
sedikit aneh, “Kisah Kakek Sihir yang Kehilangan Cucu.”
Baru
saja Juned akan memulai bernarasi, terdengar ketukan pintu yang
nyaring. Bu Nanik membukakan dan dua gadis berdiri di sana.
“Maaf, Bu, bisa bertemu dengan Kak Rama?” tanyanya sopan.
“Kalau saya mencari Kak Juned, Bu,” ujar gadis satunya.
Anak-anak
sekelas langsung gaduh, Juned dan Ibul yang mendengar namanya disebut
segera melongok siapa gerangan yang mencari mereka. Rupanya dua gadis
itu adalah para adik kelas yang mereka dekati tadi.
“Perlunya apa? Sekarang mereka sedang mempraktikkan drama,” tanya Bu Nanik balik.
“Emm, masalah pribadi, Bu,” si gadis menjawab ragu-ragu.
“Kalau hanya masalah pribadi, apa tidak bisa sepulang sekolah nanti? Jangan ganggu mereka dulu ya?”
Juned dan Ibul pun menampakkan hidung mereka, “Sebentar aja ya, Bu. Ijin bicara sama mereka sebentar.”
“Saya juga, Bu. Lima menit,” Juned menimpali.
Bu
Nanik akhirnya mengijinkan juga meski merasa risih telah diganggu jam
mengajarnya. Di luar, kedua gadis itu menyeret tangan Juned dan Ibul
kasar. Wajah mereka sebal bukan main.
“Ririn, ada apa sih?” Ibul heran dengan sikap gadis itu.
“Kok repot-repot ketuk pintu cari saya ada apa toh? Kan ndak enak sama Bu Nanik,” Juned juga tak kalah bingungnya.
Kedua gadis itu kompak menjawab. “Gara-gara kalian, kita diputusin cowok kita!!”
“Lho, kok bisa?”
“Ya
bisa lah! Waktu Kak Rama sok-sok akrab nganterin bawa buku, ternyata
cowok saya lihat dan marah. Dikiranya saya selingkuh sama kakak kelas,”
jelas Ririn. Wajahnya sampai ingin menangis. “Terus... terus saya dapat
sms, katanya hubungan kita sampai di sini aja. Katanya juga selera saya
turun drastis. Gi-gimana nih? Ayo tanggung jawab!”
Gadis
satunya yang bernama Nita pun memaparkan permasalahan yang hampir
serupa, “Kak Juned! Pokoknya Kakak musti lurusin kesalahpahaman ini!
Saya satu kelas sama cowok saya, dia cemburu banget waktu lihat kita
berdiri berduaan di luar. Apalagi Kak Juned ngerayu-ngerayu segala.
Cowok saya pasrah merelakan jika itu semua demi kebahagiaan saya, dia
nganggap saya lebih suka sama cowok ndeso daripada cowok kota modis.”
Juned
digoncang-goncangkan tubuhnya dituntut tanggung jawab, sedangkan Ibul
melihat gadis di depannya mulai mengalir turun air matanya. Mereka shock mendengar penuturan itu, sampai segitunya.
Di
dalam kelas, Bu Nanik sudah menunggu tak sabar. Belum selesai
permasalahan Ibul dan Juned, ada lagi yang bertandang ke kelas XI-IPA 2
itu. Seorang gadis tanpa dosa yang lain muncul.
“Bisa bertemu dengan Kak Fandi?”
Bu Nanik mengembuskan napas panjang, tangannya geregetan karena tambah lagi satu ekor pengganggu.
“Ada apa? Masalah pribadi juga?” Bu Nanik berkata sinis.
“I, iya... Bu,” jawabnya takut-takut.
“Fandiiii! Ada yang cariin tuh!” seru Bu Nanik ke Fandi dengan gelagat tak suka. “Huuh, kalian populer banget sih!”
Fandi pun keluar. Di depan papan tulis hanya tinggal Reina yang berdiri bengong ditinggal semua personilnya.
“Ka-kamu yang tadi di gedung kelas X kan? Kamu anak kelas X ya?” ingat Fandi.
Gadis
itu mengangguk, “Iya, saya juga yang nunjuk-nunjuk Kakak tadi. Maaf
banget, Kak, cuma itu cara buat kabur dari pacar saya. Dia keterlaluan
posesifnya, bikin nggak nyaman.”
“Tapi jangan
gitu caranya, masa masalah pribadi nyeret-nyeret orang lain? Kalau aku
dibikin babak belur sama pacarmu yang kayak Rambo itu, gimana?”
“Ya, Kak. Maaf ya... maaf,” wajah gadis itu imut sekali sampai membuat Fandi tak bisa menolak permintaan maafnya.
“Nama Kakak, Fandi kan? Nama saya April. Salam kenal.”
“Nah, kamu tahu namaku dari mana?”
“Kak Fandi nggak perlu tahu. Ada deh,” April memberikan senyuman malaikatnya.
“Fandi!!
Junaidi!! Rama!!” Bu Nanik menghardik di depan pintu. “Waktu berkunjung
selesai, kalian para perempuan udah pergi sana, pergi-pergi!
Hush-hush!”
“Hiiiii! Maaaaf, Buu,” mereka
menjawab serempak sambil kabur ketakutan. Di kejauhan, April melambaikan
tangannya pada Fandi yang kemudian segera dibalasnya cepat.
***
Menit
demi menit berlalu hingga membawa mereka pada penghujung pelajaran. Jam
terakhir di XI-IPA 2 saat itu Seni Rupa. Mereka bisa santai lagi
setelah pelajaran Matematika yang memeras otak sebelumnya. Memahami
rumus yang bervariasi membutuhkan daya logika dan konsentrasi yang
tinggi. Mereka selalu jengkel ketika rumus dalam contoh soal yang
diajarkan begitu mudah, namun ketika menghadapi lembar ujian, bermutasi
menjadi soal yang sulit ditaklukkan.
Semua
anak-anak meregangkan otot, pelajaran seni rupa yang identik dengan otak
kanan akan terasa mudah. Palingan nanti cuma disuruh gambar pemandangan
dengan perspektif yang benar. Sambil menunggu gurunya datang, mereka
ribut seperti biasanya.
Suara derap langkah menuju kelas Fandi dan kawan-kawan. “Selamat siang anak-anak!”
Semua
mata terbelalak. Tak ada yang berkedip, mereka terkejut melihat siapa
yang datang. Padahal semua anak sudah bisa menebak itu pasti Bu Meri
selaku guru Seni Rupa. Semua anak juga sudah siap dengan alat gambar
masing-masing di meja. Sudah siap untuk menyambut kelas imajinasi. Tapi,
apa yang mereka dapat? Bu Emi selaku guru Fisika yang killer
itu, yang tak kenal ampun itu, yang jatah mengajar ada di jam pertama,
kini ada di hadapan mereka semua. Lho, gimana bisa? Bukannya lagi di
Bandung?
“S-selamat siang,” jawab anak-anak bingung. Ada kekhawatiran yang segera lahir di benak mereka masing-masing.
“Sebelumnya
Ibu mau menjelaskan terlebih dahulu. Kebetulan Bu Meri, guru Seni Rupa
kalian nggak bisa mengajar hari ini. Jadi, Ibu mengambil jam pelajaran
beliau untuk mengganti jam yang kosong tadi pagi. Nggak ada yang
keberatan kan?” papar Bu Emi
“L-lho, bukannya Ibu ada halangan lantas nggak bisa ngajar hari ini?” tanya Ibul.
“Tadi
pagi sih iya. Tapi untuk siang ini Ibu sangat-sangat punya waktu untuk
kalian!” tegas Bu Emi bersemangat. “Ibu dibohongin, ada berita di
kampung Ibu di Bandung, Shahrukh Khan datang berkunjung sosialisasi.
Seharusnya Ibu lebih nyadar kalau itu bohong banget. Ibu sudah dibutakan
dengan menjadi penggemar fanatik aktor Bollywood. Kemudian, Ibu
langsung balik lagi ke Jakarta untuk menemui kalian. Tanpa beristirahat
dan tanpa minum air segelas pun. Semua itu Ibu lakukan karena Ibu punya
janji pada kalian. Ibu sayang kalian. Ayo! Sekarang siapkan selembar
kertas! Kita ulangan hari ini, sekarang juga!”
Jeglek! “Haaaaaaaaaaaaaaaahhh!!!” kompak seluruh anak seperti kodok paduan suara.
Di
otak mereka, terlintas pikiran kalau Bu Emi ini memang guru yang
sangat-sangat teladan. Karena keteladannya yang super, janjinya pada
anak-anak ia tepati hari itu juga.
“Bu… jangan memaksakan diri, Bu….” ucap anak-anak lemas.
.BY NOVEL DIMAS NURDIASYAH
No comments:
Post a Comment