smp 2 dawarblandong

Thursday, 13 October 2016

NOVEL SEKOLAH

NOVEL SEKOLAH


           SMA Bangsa, salah satu sekolah swasta di ibu kota yang cukup terpandang lantaran siswa-siswinya ahli penyabet medali. Anak-anak berprestasi macam itu yang mendongkrak nama sekolah ini. Tapi, ssstt... sebenarnya di sekolah ini, siswa yang amburadul juga banyak, hanya saja lebih baik tak usah dieskpos.
        “Itu tuh!! Ambil bolanya!! Oper kanan-oper kanan!!” teriak kubu merah.
        “Loncat!! Masukin!! Yak, bagus!! Tuh, jaga-jaga!!” kubu biru nggak kalah sengitnya.
   Di lapangan basket, di sana berkumpul anak-anak XI-IPA 2 yang pengangguran. Mereka seharusnya mendapat ulangan fisika pada jam pertama, tapi mujur, Bu Emi selaku guru Fisika yang disebut-sebut guru teladan nan disiplin, diumumkan kosong. Penundaan ulangan itu membuat anak-anak jelas bersorak-sorai merdeka, pada pasang gaya lebay sambil berjingkrak-jingkrak ke sana kemari. Mereka sama sekali belum siap tempur, lagipula otak mereka juga belum diisi hapalan rumus yang kompleks itu. Betapa beruntungnya mereka mendapat berkah ulangan yang tertunda.
        Bu Emi mendadak pulang kampung karena ada berita yang mengguncangnya. Datangnya berita itu, membuat matanya melotot hingga beberapa detik. Saking shock-nya, tanpa sempat menjelaskan kepada guru-guru yang lain, tanpa bisa dihentikan oleh siapapun. Beliau langsung saja melesat ke tanah Bandung, tanah kelahirannya. Bu Emi tak tahu, kepanikannya membuat cemas para guru dan menyisakan tanda tanya besar. Tak ada yang tahu apa yang telah terjadi.
      Kembali lagi ke lapangan basket. Saking kompaknya tiap kelompok punya suporter masing-masing. Saling teriak menyemangati jagoannya.
     Karena kelewat semangatnya, teguran tegas dari seorang guru berkumis tebal langsung menghujani mereka. Guru itu berkhotbah sambil berkacak pinggang dengan sorot mata yang dingin. Suasana di lapangan basket mendadak senyap. Atmosfir berubah hening, tak ada yang berani ribut lagi. Tapi, ternyata nggak enak diam-diaman. Mereka mulai bersuara lagi, dengan volume yang teramat sangat rendah. Malah kedengarannya kayak bisik-bisik.
      “Eh… lari-lari….. kiri bebas… langsung serang…,” lirih kubu merah.
      “Terus….terus…. jaga pertahanan… hati-hati…,” kubu biru nggak kalah pelannya.
***
   Kehidupan sekolah menurut Fandi, Ibul, dan Juned antara lain adalah belajar, bermain, dan tentunya mencari gebetan. Tidak akan lengkap masa SMA jika tidak dibumbui dengan kisah roman, mereka mendambakan kisah cinta yang berwujud seperti drama percintaan Korea. Tapi, mereka sadar jika mimpi itu ketinggian, lalu mereka turunkan jangkauan menjadi drama percintaan tingkat nasional. Dan mereka belajar menjadi pribadi yang romantis, rambut klimis, pakaian necis, tapi modal tipis.
      Fandi adalah siswa kelas XI-IPA 2, lengkapnya Affandi Dwi Senja. Rambutnya sedikit gondrong, tapi rapi. Wajahnya good looking sekaligus eye catching, kata dia sih gitu. Yah, sebelas dua belas lah sama Zac Efron, itu juga kata dia sendiri. Fandi jomblo bukan karena nasib, tapi karena Fandi sendiri bukanlah tipe laki-laki yang berpacaran hanya untuk bersenang-senang, jika ia harus pacaran, maka perempuan itu adalah orang yang sangat ia cintai.
     Ibu adalah sahabat kental Fandi, rambutnya yang bergaya babak-bapak dan giginya yang ngetril maju merupakan sebuah ciri khas. Nama asli Ibul menurut akte kelahiran adalah Rama Soneta, nampak jelas bahwa bapaknya dangdut mania. Nama Ibul sendiri hanyalah panggilan akrabnya di sekolah. Mengapa dipanggil Ibul? Alkisah, dulu ia pernah ngibul yang teramat parah dan itu bullshit banget, jadilah ia dipanggil Ibul hingga batas waktu yang tak bisa ditentukan. Satu lagi, Ibul adalah makhluk jomblo dengan daya tarik nol. Perempuan ketika memandang Ibul tak ada selera-seleranya sama sekali. Ibaratnya seperti anak muda jaman sekarang, tapi disuguhi lagu tembang kenangan jaman kakek mereka.
     Juned juga sahabat Fandi, bernama lengkap Junaidi Aman. Penjelasan, nama Aman bukan berarti aman dari abu vulkanik ataupun gempa bumi, tapi Aman di sini singkatan dari ‘Asal Sleman’. Iya, diantara mereka, cuma Juned yang bukan asli Jakarta. Tapi, hasil produksi dari Jogja! Kulitnya nggak item, juga nggak putih, Juned suka yang sedang-sedang saja. Di Jakarta, dia menumpang tinggal di rumah Pakde-Budenya. Tentang kehidupan asmaranya, sama sekali tak punya pengalaman. Juned menjomblo karena bokek. Ia tak sanggup menjadi dompet kedua wanita. Juned kadang berseloroh, “Dulu masa kecil kurang bahagia, sekarang gedenya kurang biaya.”
      Di saat yang lainnya bermain basket atau jajan di kantin, mereka bertiga memanfaatkannya dengan berjalan-jalan di gedung kelas X. Semua kelas cukup sibuk dengan aktivitas belajar masing-masing. Jalanan di koridor sepi dan lengang. Sambil sesekali mengintip di balik jendela, mata mereka men-scan, mencari adik-adik kelas yang cute dan gemesin. Mungkin saja ada yang bisa digaet.
     Seorang gadis keluar dari kelas sambil membawa setumpuk buku dengan kepayahan. Mereka bertiga bergeming, langsung mengukur kecantikan gadis itu adalah 9 dari 10. Dengan cepat, Ibul melesat ke gadis itu. Instingnya mengatakan jika gadis ayu itu membutuhkan pertolongan.
     “Boleh dibantu?” ucap Ibul pada si adik kelas.
     “Mmm, boleh,” sahutnya.
  Gadis yang diketahui sisiwi kelas X-5 itu menyerahkan sebagian buku yang dibawanya. Sebenarnya gadis itu lumayan kaget dengan Ibul yang dengan pedenya menawarkan diri tanpa malu-malu. Ia curiga jika semua ada maksud di baliknya. Apalagi laki-laki macam Ibul, kentara sekali maksud serigalanya.
    “Mau dibawa kemana?” Ibul menanyakan penuh kelembutan.
    “Ke ruang guru, Kak.”
    “Bukan bukunya... tapi, hubungan kita,” goda Ibul sambil mengedipkan sekali pada si gadis yang kontan merinding.
    Fandi dan Juned melongo. Mereka hanya bisa menonton kemudian geleng-geleng. Punya sahabat kok tak terkendali seperti itu. Sepertinya besok-besok musti diberi fitur rem biar nggak keblabasan, pikir mereka.
    Ibul dan gadis itu sudah menuruni tangga ke lantai bawah dan hilang dari pandangan. Tak membuang-buang waktu, Fandi dan Juned kembali berjalan santai di lorong kelas. Belum lama melangkah, mata mereka tertuju pada gadis lain yang berdiri di luar kelas X-8. Tak diragukan lagi, parasnya tak kalah manis dengan gadis yang membawa buku tadi.
    Seperti sebuah kesempatan, Juned mendekati dan memberikan senyum terbaiknya, “Kenapa? Kok cuma berdiri di sini ndak masuk ke kelas?”
    “Anu, lagi dihukum, Kak,” jawabnya pelan.
    “Atas dasar?”
    Gadis itu menjawab ragu-ragu, “Karena.... nggak ngerjain PR.”
    Juned menarik napas panjang. Ia busungkan dadanya kemudian melongok ke jendela, “Ooh, kamu diajar si guru muda yang baru itu, toh? Dasar ndak pengalaman! Masa ngasih hukuman muridnya kayak hukuman anak SD? Apalagi nge hukum siswi manis kayak kamu, itu tindakan ndak benar! Ya udah, gimana kalau saya temenin berdiri.”
    “Ng-nggak usah, Kak. Nggak apa-apa,” tolak si gadis.
    “Tenang aja. Dua orang lebih baik daripada sendiri. Kita jalani berdua, biar semua terasa indah. Ah maksudnya, biar kamu ndak kesepian.”
    “T-tapi....”
    Fandi menepuk jidatnya. Dua sahabatnya memang sama saja. Sama-sama penggila wanita yang parah. Seperti menemukan anak kelinci dan mereka sendiri adalah sang serigala yang kelaparan yang sudah terlampau lama berpuasa. Tapi, karena Fandi adalah sahabat yang baik, ia cukup pengertian dan meninggalkan Juned yang terlanjur asyik dengan incarannya.
    Gedung kelas X yang besar ini memiliki tiga lantai. Di saat Fandi menuruni tangga pelan, matanya menangkap sepasang muda-mudi yang sedang berseteru di pertengahan tangga. Sinyal bahaya berdengung, kata hatinya mengatakan agar tak perlu ikut campur dalam urusan mereka. Seketika paham, langkah Fandi pun pindah haluan.
    “Nah, itu dia! Dia orangnya!” seru sang gadis yang sedari tadi bertengkar mulut dengan laki-laki yang bersamanya.
    Otomatis Fandi menoleh ke mereka. Kagetnya Fandi mendapati dirinya diacungi sedemikian rupa oleh gadis itu.
    “Heh! Jangan pergi lo!” sergah laki-laki yang memiliki tubuh besar atletis. Dengan gagah ia berjalan mendekat ke Fandi yang terlanjur kaku di tempat. “Jadi lo orangnya? Cowok kurang ajar yang udah berani godain cewek orang! April tuh cewek gue!!”
    “A-April siapa? Tu-tunggu, ini pasti ada kesalahpahaman,” Fandi yang tak tahu apa-apa hanya bisa bingung. Ditambah dipelototi begitu rupa, jelas bikin Fandi mengkeret.
    “Berani-beraninya lo ya! Udah bosen sehat lo? Pingin daftar di rumah sakit, iya!?”
    “A-anu, Bang....,” Fandi sepertinya tahu kalau laki-laki kasar itu adalah anak kelas XII, kakak kelasnya. “Sa-salah paham. Su-sumpah, Bang! Saya nggak tahu apa-apa...”
    “Halah! Kagak percaya gue!”
    “Sa-saya anak baik-baik, nggak aneh-aneh, c-cinta kedamaian, hapal pancasila, kalau tujuhbelasan suka panjat pinang, peace, Bang! Peace anak Slankers!”
    Laki-laki itu mendengus mirip kerbau, wajahnya memerah dan siap untuk menerjang Fandi. Ia melongok ke gadisnya meminta kepastian. Tapi...
    “Eh, Lho. Mana April?” kakak kelas Fandi itu celingukan, gadis di sebelahnya telah hilang.
    “Ka-kalau yang dimaksud cewek di samping tadi udah lari ke bawah.”
    Fandi masih kaku tak tahu musti bagaimana. Laki-laki itu sudah turun ke bawah mengejar pacarnya sembari berseru memanggil namanya. Tinggallah Fandi berdiri sendiri sambil bengong.
***
    “Hmm... tugas kelompoknya sudah selesai kan?” ucap Bu Nanik seraya melihat anak-anak didiknya. Pelajaran Bahasa Indonesia sudah dimulai. “Ibu nggak akan tunjuk sana-sini. Kalian udah SMA, udah gede. Siapa yang berani maju duluan, dia dapat nilai lebih. Gitu aja ya?”
    Anak-anak saling pandang. Saling berunding sesama kelompoknya. Tugas yang diberikan Bu Nanik saat itu tugas membuat naskah drama dengan latar kerajaan.
    Fandi juga memiliki satu sahabat lagi, kali ini perempuan, namanya Reina Agnesia. Reina bukannya tidak pernah bergaul dengan teman perempuannya, tapi memang Reina merasa lebih hidup saat kumpul bersama Fandi CS. Kocak aja bisa bareng cowok-cowok gokil itu, katanya. Reina anaknya tomboy? Ooh tidak, feminin malah. Hobinya sama seperti anak-anak perempuan pada umumnya. Kalau ditanya apa yang paling dia sukai, Reina langsung jawab dengan semangat, “Bikin kue!” Dia punya cita-cita pingin punya bakery sendiri dan cabangnya kalau bisa ada dimana-mana. Paling nggak tiap lewat dua kilo, berdiri toko kuenya.
    Saat yang lainnya diliputi keraguan untuk maju, Fandi, Ibul, Juned, dan Reina serentak berdiri dan melangkah maju ke depan dengan pasti. Anak-anak pada sirik karena kalah cepat.
    Fandi CS sudah membagi tugas dan peran secara merata. Ibul sempat protes karena ia selalu mendapat bagian yang nggak enak. Juned menjadi narator cerita, Fandi menjadi pangeran yang tertukar, Ibul menjadi kakek sihir buruk rupa, dan Reina tentu saja menjadi sang puteri yang cantik jelita. Judul naskah drama mereka sedikit aneh, “Kisah Kakek Sihir yang Kehilangan Cucu.”
    Baru saja Juned akan memulai bernarasi, terdengar ketukan pintu yang nyaring. Bu Nanik membukakan dan dua gadis berdiri di sana.
    “Maaf, Bu, bisa bertemu dengan Kak Rama?” tanyanya sopan.
    “Kalau saya mencari Kak Juned, Bu,” ujar gadis satunya.
    Anak-anak sekelas langsung gaduh, Juned dan Ibul yang mendengar namanya disebut segera melongok siapa gerangan yang mencari mereka. Rupanya dua gadis itu adalah para adik kelas yang mereka dekati tadi.
    “Perlunya apa? Sekarang mereka sedang mempraktikkan drama,” tanya Bu Nanik balik.
    “Emm, masalah pribadi, Bu,” si gadis menjawab ragu-ragu.
    “Kalau hanya masalah pribadi, apa tidak bisa sepulang sekolah nanti? Jangan ganggu mereka dulu ya?”
    Juned dan Ibul pun menampakkan hidung mereka, “Sebentar aja ya, Bu. Ijin bicara sama mereka sebentar.”
    “Saya juga, Bu. Lima menit,” Juned menimpali.
    Bu Nanik akhirnya mengijinkan juga meski merasa risih telah diganggu jam mengajarnya. Di luar, kedua gadis itu menyeret tangan Juned dan Ibul kasar. Wajah mereka sebal bukan main.
    “Ririn, ada apa sih?” Ibul heran dengan sikap gadis itu.
    “Kok repot-repot ketuk pintu cari saya ada apa toh? Kan ndak enak sama Bu Nanik,” Juned juga tak kalah bingungnya.
    Kedua gadis itu kompak menjawab. “Gara-gara kalian, kita diputusin cowok kita!!”
    “Lho, kok bisa?”
    “Ya bisa lah! Waktu Kak Rama sok-sok akrab nganterin bawa buku, ternyata cowok saya lihat dan marah. Dikiranya saya selingkuh sama kakak kelas,” jelas Ririn. Wajahnya sampai ingin menangis. “Terus... terus saya dapat sms, katanya hubungan kita sampai di sini aja. Katanya juga selera saya turun drastis. Gi-gimana nih? Ayo tanggung jawab!”
    Gadis satunya yang bernama Nita pun memaparkan permasalahan yang hampir serupa, “Kak Juned! Pokoknya Kakak musti lurusin kesalahpahaman ini! Saya satu kelas sama cowok saya, dia cemburu banget waktu lihat kita berdiri berduaan di luar. Apalagi Kak Juned ngerayu-ngerayu segala. Cowok saya pasrah merelakan jika itu semua demi kebahagiaan saya, dia nganggap saya lebih suka sama cowok ndeso daripada cowok kota modis.”
    Juned digoncang-goncangkan tubuhnya dituntut tanggung jawab, sedangkan Ibul melihat gadis di depannya mulai mengalir turun air matanya. Mereka shock mendengar penuturan itu, sampai segitunya.
    Di dalam kelas, Bu Nanik sudah menunggu tak sabar. Belum selesai permasalahan Ibul dan Juned, ada lagi yang bertandang ke kelas XI-IPA 2 itu. Seorang gadis tanpa dosa yang lain muncul.
    “Bisa bertemu dengan Kak Fandi?”
    Bu Nanik mengembuskan napas panjang, tangannya geregetan karena tambah lagi satu ekor pengganggu.
    “Ada apa? Masalah pribadi juga?” Bu Nanik berkata sinis.
    “I, iya... Bu,” jawabnya takut-takut.
    “Fandiiii! Ada yang cariin tuh!” seru Bu Nanik ke Fandi dengan gelagat tak suka. “Huuh, kalian populer banget sih!”
    Fandi pun keluar. Di depan papan tulis hanya tinggal Reina yang berdiri bengong ditinggal semua personilnya.
    “Ka-kamu yang tadi di gedung kelas X kan? Kamu anak kelas X ya?” ingat Fandi.
    Gadis itu mengangguk, “Iya, saya juga yang nunjuk-nunjuk Kakak tadi. Maaf banget, Kak, cuma itu cara buat kabur dari pacar saya. Dia keterlaluan posesifnya, bikin nggak nyaman.”
    “Tapi jangan gitu caranya, masa masalah pribadi nyeret-nyeret orang lain? Kalau aku dibikin babak belur sama pacarmu yang kayak Rambo itu, gimana?”
    “Ya, Kak. Maaf ya... maaf,” wajah gadis itu imut sekali sampai membuat Fandi tak bisa menolak permintaan maafnya.
    “Nama Kakak, Fandi kan? Nama saya April. Salam kenal.”
    “Nah, kamu tahu namaku dari mana?”
    “Kak Fandi nggak perlu tahu. Ada deh,” April memberikan senyuman malaikatnya.
    “Fandi!! Junaidi!! Rama!!” Bu Nanik menghardik di depan pintu. “Waktu berkunjung selesai, kalian para perempuan udah pergi sana, pergi-pergi! Hush-hush!”
    “Hiiiii! Maaaaf, Buu,” mereka menjawab serempak sambil kabur ketakutan. Di kejauhan, April melambaikan tangannya pada Fandi yang kemudian segera dibalasnya cepat.
***
    Menit demi menit berlalu hingga membawa mereka pada penghujung pelajaran. Jam terakhir di XI-IPA 2 saat itu Seni Rupa. Mereka bisa santai lagi setelah pelajaran Matematika yang memeras otak sebelumnya. Memahami rumus yang bervariasi membutuhkan daya logika dan konsentrasi yang tinggi. Mereka selalu jengkel ketika rumus dalam contoh soal yang diajarkan begitu mudah, namun ketika menghadapi lembar ujian, bermutasi menjadi soal yang sulit ditaklukkan.
    Semua anak-anak meregangkan otot, pelajaran seni rupa yang identik dengan otak kanan akan terasa mudah. Palingan nanti cuma disuruh gambar pemandangan dengan perspektif yang benar. Sambil menunggu gurunya datang, mereka ribut seperti biasanya.
    Suara derap langkah menuju kelas Fandi dan kawan-kawan. “Selamat siang anak-anak!”
    Semua mata terbelalak. Tak ada yang berkedip, mereka terkejut melihat siapa yang datang. Padahal semua anak sudah bisa menebak itu pasti Bu Meri selaku guru Seni Rupa. Semua anak juga sudah siap dengan alat gambar masing-masing di meja. Sudah siap untuk menyambut kelas imajinasi. Tapi, apa yang mereka dapat? Bu Emi selaku guru Fisika yang killer itu, yang tak kenal ampun itu, yang jatah mengajar ada di jam pertama, kini ada di hadapan mereka semua. Lho, gimana bisa? Bukannya lagi di Bandung?
    “S-selamat siang,” jawab anak-anak bingung. Ada kekhawatiran yang segera lahir di benak mereka masing-masing.
    “Sebelumnya Ibu mau menjelaskan terlebih dahulu. Kebetulan Bu Meri, guru Seni Rupa kalian nggak bisa mengajar hari ini. Jadi, Ibu mengambil jam pelajaran beliau untuk mengganti jam yang kosong tadi pagi. Nggak ada yang keberatan kan?” papar Bu Emi
    “L-lho, bukannya Ibu ada halangan lantas nggak bisa ngajar hari ini?” tanya Ibul.
    “Tadi pagi sih iya. Tapi untuk siang ini Ibu sangat-sangat punya waktu untuk kalian!” tegas Bu Emi bersemangat. “Ibu dibohongin, ada berita di kampung Ibu di Bandung, Shahrukh Khan datang berkunjung sosialisasi. Seharusnya Ibu lebih nyadar kalau itu bohong banget. Ibu sudah dibutakan dengan menjadi penggemar fanatik aktor Bollywood. Kemudian, Ibu langsung balik lagi ke Jakarta untuk menemui kalian. Tanpa beristirahat dan tanpa minum air segelas pun. Semua itu Ibu lakukan karena Ibu punya janji pada kalian. Ibu sayang kalian. Ayo! Sekarang siapkan selembar kertas! Kita ulangan hari ini, sekarang juga!”
    Jeglek! “Haaaaaaaaaaaaaaaahhh!!!” kompak seluruh anak seperti kodok paduan suara.
    Di otak mereka, terlintas pikiran kalau Bu Emi ini memang guru yang sangat-sangat teladan. Karena keteladannya yang super, janjinya pada anak-anak ia tepati hari itu juga.
    “Bu… jangan memaksakan diri, Bu….” ucap anak-anak lemas.

.BY NOVEL DIMAS NURDIASYAH

No comments:

Post a Comment